Minggu, 10 Oktober dan Minggu, 17 Oktober 2010; kegiatan Motivation Training (MT) bagi Siswa SMP Negeri 3 Kebumen digelar. Bertempat di "Aula' (baca: R. Kelas IX C, D, E). Kegiatan tersebut diikuti oleh hampir seluruh siswa, berjumlah 278. Pada Minggu, 10 Oktober, terdapat 6 siswa tidak mengikuti kegiatan tersebut. Keenam siswa tersebut adalah Naufal Banyuargani (IX A), Alfin Deni Argani, Hanifah Fitriani, Lani Chalimurrosidah, Meliana Lestari, dan Ulfa Yulia Rohmah (ke-5 nya kelas IX C).
Sedangkan pada Minggu, 17 Oktober, terdapat 6 siswa tidak hadir. Keenam siswa tersebut adalah Tri Uhaful, dan Muflihatul M.(IX F), Irfan Saefudin dan Ahmad Khotim Aziz (IX G), Emerald Magma Audha dan Umi Hanifah (IX H).
Pada kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para wali kelas - sebagai pendamping peserta didik. Pada Minggu, 10 Oktober, tampak hadir Bapak Santoso, S.Pd.Mat. (wali kelas IX A), Ibu Dra. Endah Ambarwati (wali kelas IX C), Hj. Sumarni (wali kelas IX D), dan Ibu Endang Parwati Wahyu Handayani, S.Pd. (wali kelas IX E). Pada Minggu, 17 Oktober, tampak hadir Ibu Emi Lestari, S.Pd. Bio. (wali kelas IX B), Ibu Sri Untarti (wali kelas IX F), dan Ibu Dra. Tati Khamimah (wali kelas IX G). Sedangkan wali kelas IX H - Bapak H. Munfarid, S.Pd. tidak dapat mendampingi peserta didiknya karena tengah mengikuti studi S2 di Purwokerto.
Disamping para wali kelas itu, juga hadir Kepala SMP N 3 Kebumen (Bapak Drs. H. Robani Mb., M.Pd. (Kepala SMP N 3 Kebumen) dan panitia MT seperti Bapak Rokhmat (wakil KS), Bapak Soepono, S.Pd. (Ka Tim Sukses UN), Bapak Wahyudi, S.Pd. (Ur. Kurikulum), Ibu Maryati, S.Pd. (Ka. TU), Bapak Agus Tjahjono, Ibu Suhartati, Ibu Sri Hidayatun, Bapak Toni Andriyanto, Bapak Sururi, Bapak Mujiono, Bapak Najmudin, (staf TU).
Pada sambutannya, Bapak Robani menyampaikan bahwa kegiatan MT ini didasari adanya keinginan agar lulusan tahun ini lebih baik. Karena bagaimanapun, hasil UN itu masih menjadi parameter keberhasilan sebuah sekolah. Terlebih, kriteria lulusan SMP RSBI mestinya mampu menembus level 8,0 dan hasil ujian sekolahnya mencapai 8,5. Untuk itulah, diperlukan strategi yang jitu dan memiliki rasa percaya diri tinggi yang pada gilirannya mendapatkan hasil UN yang tinggi. Dengan demikian, diterima di sekolah level di atasnya - di manapun sesuai keinginannya. Pada akhir sambutannya, Kepala Sekolah berharap agar Fahma Motivation Training Yogyakarta, yang kali ini hadir: Mas Kurnia Pramuji Harso, S.Sos. (Trainer), Mas Galih Setiawan, S.Sos. - Mas Anang Patri Widiantoro, S.T. - Mas Fitrian Agung Prambono - Mas Nur Muhammad, S.TH.I.(keempatnya Asisten Trainer) dapat memotivasi para peserta didik SMP N 3 Kebumen agar lebih baik lagi.
Tak ada kata pujian yang dapat dituliskan, kecuali "HEBAT" pada Trainer itu. Di usianya yang baru mencapai 25 tahunan itu, mampu membawa peserta didik SMP N 3 Kebumen 'terhanyut' - 'sadar' akan niat dan tujuannya sekolah. Sebagian besar peserta didik menangis tersedu - terisak meratapi kesalahannya.
Di awal pertemuan (dimulai pada pukul 08.30), trainer coba menyambung komunikasi dengan peserta didik. Berangsur-angsur, coba menggali potensi-potensi yang ada pada siswa. Di sini, secara tidak disadari, peserta didik dibawa untuk masuk ke alam bawah sadar, bahwa di luar sana, masih banyak anak seusianya yang tidak berkesempatan untuk menempuh pendidikan (baca:sekolah). Peserta didik disadarkan bahwa kesempatan yang dimiliki sekarang ini adalah ikatan rantai emas kehidupan yang sangat berharga.
Diberikan contoh tayangan orang cacat - terbatas dalam banyak hal, gak punya kaki, gak punya tangan, buta, dsb. Tapi, prestasinya jauh melebihi manusia normal pada umumnya!
Setelah peserta didik "nyambung" dengan trainer - digiring agar dengan modal/ potensi yang dipunyai itu, bisa menggunakannya dengan lebih maksimal. Perlu digarisbawahi, prestasi itu tidak berbanding dengan sarana. Tetapi, yang terpenting dalam hal ini adalah "SEMANGAT".
Sebagai akhir kegiatan, disampaikan bahwa kesuksesan seseorang itu bergantung dari besar kecilnya motivasi.
Semoga, dengan MT itu, peserta didik kita menjadi sadar akan keberadannya di sekolah ini. Dengan demikian, prestasi - keberhasilan di masa mendatang, akan diraih. Insya Allah. Amiiin.
kucoba meraba dan menyentuh, tuk berkenalan dengan dunia baru di peradaban yang serba baru juga. kucoba tuk berbagi pengalaman yang kuharap ada gunanya, setidaknya bagi diriku sendiri.
Minggu, 17 Oktober 2010
Jumat, 24 September 2010
Memuji dan Mengritik?
Memuji-Mengritik Adakah Resiko? ( menilik kasus Faizal Assegaf )
OPINI Ragile| 4 April 2010 | 15:06
Silang pendapat menyeruak sejak dibekukannya akun Faizal Assegaf 30-mar-2010. Tercatat Minami menulis di sini. Lalu Om Jay (Wijaya Kukumah) di sini. Linda menulis di sini. Pepih Nugraha mengimbangi di sini.
Bagi saya sangat menarik mengamati silang pendapat pada artikel-artikel di atas yang menunjukkan adanya dinamika berpikir dan bersuara di Kompasiana. Walaupun agak timpang karena Faisal Assegaf keburu diblokir akunnya sehingga hanya bisa berteriak dari tengah padang pasir nun jauh di sana.
Kita tahu adalah sehat ada memuji ada mengecam. Dan jadi meriang panas-dingin jika kebablasan memuji dan keterlaluan mengecam. Ini di ruang publik dan untuk konsumsi publik. Kebablasan memuji akan mengundang reaksi, “Eh, cari muka ya?”. Keterlaluan mengecam tanpa bukti dan indikasi akan mengundang komen sinis, “Brengsek nih. Dibayar berapa sih?”
Apa boleh buat kita menulis di ruang publik tidak hanya harus paham etika tapi juga paham resiko dari apa yang kita tulis.
Andaikata hari ini saya memuji Kompasianer X dengan julukan “Pahlawan Nasional Kebahagian Rumah Tangga” tentu akan ada yg setuju. Dan harus siap digempur oleh pembaca yang kontra dg segala macam caci-maki, “Pahlawan nasional, siapa dia? Kamu menjilat?”.
Andaikata hari ini saya menuduh Kompasiner Y adalah anggota Admin penghianat dan menilap kas Kompasiana, bisa jadi ada yg manggut-manggut. Pada saat yg sama saya harus siap dibombardir pertanyaan tentang sumber informasi, bukti, dll. Juga harus siap akun saya diblokir karena menyebarkan kebencian dan fitnah, apalagi terhadap tuan rumah. “Kamu asal berkoar, fitnah, nggak mutu!” mungkin itu komen yg didapat.
Saya hanya ingin mengingatkan di sini bahwa kebebasan selalu ada batas. Tak pantas memuji tanpa batas yg sulit diterima akal sehat, waras, dan nalar- bikin jengah. Tak lucu mengecam tanpa bukti dan indikasi yg hanya terdorong kebencian pribadi - bikin muak. Ancaman jerat hukum pidana di depan mata.
Kita menulis sesuai hati nurani dan keyakinan tanpa maksud mencelakakan orang lain baik melalui kritikan maupun pujian. Penulis sejati, setau saya, berusaha menyuarakan kebenaran - tak ada kaitan dengan jumlah dukungan, tidak ada kaitan dengan kedudukan/ klaim si penulis.
Kebenaran tidak berharap kata-kata manis, tidak berharap suara paling keras, hanya berharap mengatakan apa adanya.
OPINI Ragile| 4 April 2010 | 15:06
Silang pendapat menyeruak sejak dibekukannya akun Faizal Assegaf 30-mar-2010. Tercatat Minami menulis di sini. Lalu Om Jay (Wijaya Kukumah) di sini. Linda menulis di sini. Pepih Nugraha mengimbangi di sini.
Bagi saya sangat menarik mengamati silang pendapat pada artikel-artikel di atas yang menunjukkan adanya dinamika berpikir dan bersuara di Kompasiana. Walaupun agak timpang karena Faisal Assegaf keburu diblokir akunnya sehingga hanya bisa berteriak dari tengah padang pasir nun jauh di sana.
Kita tahu adalah sehat ada memuji ada mengecam. Dan jadi meriang panas-dingin jika kebablasan memuji dan keterlaluan mengecam. Ini di ruang publik dan untuk konsumsi publik. Kebablasan memuji akan mengundang reaksi, “Eh, cari muka ya?”. Keterlaluan mengecam tanpa bukti dan indikasi akan mengundang komen sinis, “Brengsek nih. Dibayar berapa sih?”
Apa boleh buat kita menulis di ruang publik tidak hanya harus paham etika tapi juga paham resiko dari apa yang kita tulis.
Andaikata hari ini saya memuji Kompasianer X dengan julukan “Pahlawan Nasional Kebahagian Rumah Tangga” tentu akan ada yg setuju. Dan harus siap digempur oleh pembaca yang kontra dg segala macam caci-maki, “Pahlawan nasional, siapa dia? Kamu menjilat?”.
Andaikata hari ini saya menuduh Kompasiner Y adalah anggota Admin penghianat dan menilap kas Kompasiana, bisa jadi ada yg manggut-manggut. Pada saat yg sama saya harus siap dibombardir pertanyaan tentang sumber informasi, bukti, dll. Juga harus siap akun saya diblokir karena menyebarkan kebencian dan fitnah, apalagi terhadap tuan rumah. “Kamu asal berkoar, fitnah, nggak mutu!” mungkin itu komen yg didapat.
Saya hanya ingin mengingatkan di sini bahwa kebebasan selalu ada batas. Tak pantas memuji tanpa batas yg sulit diterima akal sehat, waras, dan nalar- bikin jengah. Tak lucu mengecam tanpa bukti dan indikasi yg hanya terdorong kebencian pribadi - bikin muak. Ancaman jerat hukum pidana di depan mata.
Kita menulis sesuai hati nurani dan keyakinan tanpa maksud mencelakakan orang lain baik melalui kritikan maupun pujian. Penulis sejati, setau saya, berusaha menyuarakan kebenaran - tak ada kaitan dengan jumlah dukungan, tidak ada kaitan dengan kedudukan/ klaim si penulis.
Kebenaran tidak berharap kata-kata manis, tidak berharap suara paling keras, hanya berharap mengatakan apa adanya.
Minggu, 19 September 2010
Silaturahim Keluarga Besar SMP N 3 Kebumen Tahun 1431 H / 2010 M
Sabtu, 18 September 2010, pukul 09.20 digelar Kegiatan Silaturahim Keluarga Besar SMP N 3 Kebumen Tahun 1431 H / 2010 M. Acara silaturahim, yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun - di bulan syawal ini, dihadiri oleh para mantan kepala sekolah, guru, dan karyawan; pengurus komite sekolah, ibu bapak guru dan karyawan SMP N 3 Kebumen. Mengundang Ibu Dra. Hj. Eti Komariah, M.Ag. yang juga seorang guru di MTs. Negeri 2 Kebumen. Silaturahim tahun ini mengangkat tema, "Tingkatkan Keimanan dan Ketakwaan."
Diawal tausiahnya, Ibu Eti - demikian kami menyapanya, menyampaikan bahwa acara silaturahim seperti ini sudah menjadi budaya. Budaya yang baik tentu saja.
Silaturahim berarti menyambung tali persaudaraan. Jadi, siapapun - tak bergantung dari agama - sah-sah saja bersilaturahim. Sangat baik, tentu saja. Karena harus diingat, bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang mau memberi maaf kepada saudaranya sebelum saudaranya itu meminta maaf.
Hadirin diingatkan bahwa hikmah dari puasa romadhon kemarin adalah menjadikan kita lebih qonaah - syukur. Kembali melakukan hal-hal baik yang telah dilakukan selama bulan romadhon. Sholat sunat misalnya. Kalau di bulan romadhon kita mau dan mampu sholat sunat tarowih 20 rokaat, atau 8 rokaat dalam satu waktu. Setelah romadhon usai, masihkah kita melakukan sholat sunat lain? Sholat sunat Rowatib, misalnya?
Jika kebiasaan-kebiasaan baik di bulan romadhon itu kembali dijalankan pada bulan-bulan berikutnya, Insya Allah, kita telah meningkat iman dan takwanya. Amiiiin.
Silaturahim selesai pada pukul 12.10.
Diawal tausiahnya, Ibu Eti - demikian kami menyapanya, menyampaikan bahwa acara silaturahim seperti ini sudah menjadi budaya. Budaya yang baik tentu saja.
Silaturahim berarti menyambung tali persaudaraan. Jadi, siapapun - tak bergantung dari agama - sah-sah saja bersilaturahim. Sangat baik, tentu saja. Karena harus diingat, bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang mau memberi maaf kepada saudaranya sebelum saudaranya itu meminta maaf.
Hadirin diingatkan bahwa hikmah dari puasa romadhon kemarin adalah menjadikan kita lebih qonaah - syukur. Kembali melakukan hal-hal baik yang telah dilakukan selama bulan romadhon. Sholat sunat misalnya. Kalau di bulan romadhon kita mau dan mampu sholat sunat tarowih 20 rokaat, atau 8 rokaat dalam satu waktu. Setelah romadhon usai, masihkah kita melakukan sholat sunat lain? Sholat sunat Rowatib, misalnya?
Jika kebiasaan-kebiasaan baik di bulan romadhon itu kembali dijalankan pada bulan-bulan berikutnya, Insya Allah, kita telah meningkat iman dan takwanya. Amiiiin.
Silaturahim selesai pada pukul 12.10.
Kamis, 09 September 2010
Takbir Keliling SMP N 3 Kebumen
Kumandang takbir telah bergema sejak sebelum waktu sholat ashar tiba. Pertanda waktu Romadhon hampir usai.
Tahun ini, hari raya idul fitri - atau yang lebih populer dengan sebutan "lebaran", di kabupaten Kebumen menyelenggarakan takbir keliling bersama. Diikuti oleh masyarakat yang menginginkannya. Star dari depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen.
Pun dengan SMP N 3 Kebumen. Mengirimkan 1 kol terbuka berisi peserta takbir keliling. Dilengkapi dengan group rebana yang dipimpin oleh Bapak Toni Andriyanto - Staf TU SMP N 3 Kebumen - laboran, juga mekanik sound sistem. Bersama dengan 6 orang siswa pimpinan Irvan Nuary siswa kelas IX A dan kawankawannya dibantu oleh Bapak Sururi - Pembantu Pelaksana SMP N 3 Kebumen.
Peserta takbir keliling tahun ini - yang juga group rebana itu, selama ini sudah dilatih dengan sangat baik oleh Bapak Najmudin - Pembantu SMP N 3 Kebumen, yang tangguh di bidang Qiroati Alquran.
Di sekolah, menunggu Bapak Purwono Setyo Budi, S.Pd. - Urusan Kesiswaan SMP N 3 Kebumen, Bapak Sukardjo, S.Pd. - Sekretaris MPO, dibantu juga oleh Bapak Wahyudi - Guru Bahasa Indonesia SMP N 3 kebumen.
Peserta takbir mulai berdatangan setelah maghrib. Menggunakan kol terbuka dari Gunungsari, Pejagoan.
Takbir tahun ini, menempuh rute yang sedikit berbeda dengan takbir-takbir sebelumnya. Takbir selesai pada pukul 21.40.
Tahun ini, hari raya idul fitri - atau yang lebih populer dengan sebutan "lebaran", di kabupaten Kebumen menyelenggarakan takbir keliling bersama. Diikuti oleh masyarakat yang menginginkannya. Star dari depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen.
Pun dengan SMP N 3 Kebumen. Mengirimkan 1 kol terbuka berisi peserta takbir keliling. Dilengkapi dengan group rebana yang dipimpin oleh Bapak Toni Andriyanto - Staf TU SMP N 3 Kebumen - laboran, juga mekanik sound sistem. Bersama dengan 6 orang siswa pimpinan Irvan Nuary siswa kelas IX A dan kawankawannya dibantu oleh Bapak Sururi - Pembantu Pelaksana SMP N 3 Kebumen.
Peserta takbir keliling tahun ini - yang juga group rebana itu, selama ini sudah dilatih dengan sangat baik oleh Bapak Najmudin - Pembantu SMP N 3 Kebumen, yang tangguh di bidang Qiroati Alquran.
Di sekolah, menunggu Bapak Purwono Setyo Budi, S.Pd. - Urusan Kesiswaan SMP N 3 Kebumen, Bapak Sukardjo, S.Pd. - Sekretaris MPO, dibantu juga oleh Bapak Wahyudi - Guru Bahasa Indonesia SMP N 3 kebumen.
Peserta takbir mulai berdatangan setelah maghrib. Menggunakan kol terbuka dari Gunungsari, Pejagoan.
Takbir tahun ini, menempuh rute yang sedikit berbeda dengan takbir-takbir sebelumnya. Takbir selesai pada pukul 21.40.
Langganan:
Postingan (Atom)