Selasa, 15 Februari 2011

Detik-detik Rasulullah SAW Menjelang Sakaratul Maut

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakaratul maut, ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah,


“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian. Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.

Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.

Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.

“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Umatku, umatku, umatku. . . .” dan . . . PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU . . . .
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?


Ketika Umar Sang “Singa Padang Pasir ” Menangis

Pernahkah kita membaca dalam riwayat tentang Umar bin Khatab yang menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan, konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar. Dikisahkan, kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.


Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

Mengapa “Singa Padang Pasir yang perkasa” ini sampai menangis?

Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras.

"Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku."
Rasul yang mulia bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Umar?” Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

Nabi berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.

Semoga, kita dapat meneladani Rasul kita itu dan tergolong umat Nabi SAW yang mendapatkan kebaikan. Amiin.

Senin, 24 Januari 2011

Komitmen dan Semangat

"Saya tidak memiliki apa-apa, kecuali semangat dan komitmen untuk ikut membangun . . . .". Demikian salah satu kalimat dari seorang pemimpin ormas baru di Jawa Tengah.


Menarik, apa yang dikatakannya itu. SEMANGAT dan KOMITMEN. Ya, itulah dua (2) hal yang harus dimiliki seseorang jika menginginkan suatu perubahan - Tentu saja perubahan ke arah kemajuan.

Semangat adalah faktor penting untuk meraih sebuah keinginan. Semangat berarti siap menerima tantangan seberat apapun. Sebagai misal, seorang Thomas Alfa Edison yang berhasil mengalahkan kegagalannya hingga ratusan bahkan ribuan kali yang pada akhirnya berhasil menemukan lampu listrik - yang hingga saat ini kita menggunakannya. Thomas Alfa Edison memiliki sikap positif dan pantang menyerah meski pernah dianggap bodoh oleh gurunya.

Thomas Alfa Edison sanggup bekerja keras sehingga berhasil membuat hak paten 1.093 penemuannya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Berapa kali kita gagal? Lalu, mengapa harus berhenti?

Hal kedua yang harus dimiliki untuk mendapatkan perubahan ke arah kemajuan itu adalah komitmen. Seorang Ed McElroy dari USAir pernah menyampaikan pentingnya komitmen. Menurutnya, komitmen memberinya kekuatan baru. Apapun yang dialaminya : penyakit, kemiskinan, ataupun bencana - tidak pernah mengalihkan pandangan dari sasaran semula.

Seorang pemimpin - kita, butuh komitmen itu:
1. Komitmen muncul karena ada tantangan
2. Komitmen diuji oleh perbuatan
3. Komitmen kekal jika didasrkan pada nilai
4. Komitmen tidak bergantung pada bakat dan kemampuan
5. Komitmen timbul bukan karena kondisi tetapi karena pilihan
6. Komitmen membuka pintu prestasi

Berkait dengan komitmen itu, Rini mengatakan ada empat (4) macam manusia:
1. Pengecut, yaitu mereka yang tidak memiliki sasaran dan tidak berkomitmen
2. Peragu, yaitu mereka yang tidak tahu apakah mampu mencapai sasaran, sehingga takut untuk
memulai
3. Penyerah, yaitu mereka yang mau melangkah namun berhenti manakala ada tantangan menghadang
4. Pejuang, yaitu mereka yang menetapkan sasaran untuk diraih, diperjuangkan, sehingga mau
berusaha meski sangat berat.
(Maxwell, John C. 2001)

Nah, sekarang : pertanyaannya adalah, "Apakah kita termasuk orang-orang yang memiliki semangat dan komitmen?" (Wallaahua'lam - Insya Allah)

Senin, 17 Januari 2011

Ke mana Arahmu?

Suatu ketika, Ibu Hj. AH, bertanya kepadaku. "Ke mana arah tujuan hidupmu sebetulnya, Pak?"

Petanyaan yang cukup pendek. Namun, tidak mampu langsung kujawab. Tujuanku? Arah hidupku? Keluargaku, juga kan? Refleks, kujawab ,"Ingin jadi guru yang baik."

Benarkah?


Dua hari berikutnya, kembali kami ngobrol putar-putar. Ya, seputar hidup dan kehidupan. Tentang apa, mengapa, bagaimana seharusnya . . . dan seterusnya.

Tentang jawabanku itu, Beliau menggarisbawahi. "Tidak cukup seorang "W" 'hanya' menjawab seperti itu. Beliau menandaskan, seorang laki-laki, penting memiliki 'karier' - 'menjadi pemimpin'.
Di 'sebanyak-banyaknya lini'. Karena komunitas yang bagus, negara yang bagus, organisasi yang bagus, memang harus dipimpin juga oleh 'orang-orang yang baik.'

Jujur, saya tidak terlalu 'ngeh' arah pembicaraan-pertanyaan beliau. Yang pasti, saya - diri ini, sulit untuk 'berkeinginan' apalagi 'melangkah' ke arah itu. Menjadi guru yang baik saja - menjadi kepala keluarga yang baik saja, sering saya rasakan betapa beratnya. Rasanya, tugas yang saat ini kuemban saja masih jauh dari yang diharapkan banyak orang. Apalagi , kalau harus berpikir - melangkah 'memimpin' yang lebih dari sekarang. Wallaahu a'lam.