16/6/2006
QSII:92
Pembahasan suatu hal, jangan hanya mengandalkan akal, sebab akan menjadi orang yang SEKULER. Orang bisa masuk sorga karena rahmat Allah SWT. "Jangan andalkan ilmu dan amalmu untuk masuk surga, karena masuk surga itu adalah kerena rahmat Allah.
Tapi, harapkanlah rahmat Allah dengan ilmu dan amal. Kita beramal, cari ilmunya. Kita cari ilmu sambil beramal. Kita masuk sorga karena kasih sayang Allah. Dan ada neraka karena Allah adil.
Ayat kursi mengamanatkan kepada kita bahwa pertolongan apapun karena izin Allah.
Harapkan pertolongan Rasul Muhammad SAW, karena akan meringankan siksa kita.
Penting diingat, carilah ilmu dan bertawalah. Moga, kita tergolong umat yang beruntung. Amiiin.
kucoba meraba dan menyentuh, tuk berkenalan dengan dunia baru di peradaban yang serba baru juga. kucoba tuk berbagi pengalaman yang kuharap ada gunanya, setidaknya bagi diriku sendiri.
Tampilkan postingan dengan label tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausiah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 September 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Iman Seorang Mukmin
Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian.
Di saat ia totalitas dlam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari doanya ketika ia tetap tidak mengubah keinginan.(HR Ibnu Qoyyim)
Al Mustaurid bin Syaddad berkata, Rasulullah bersabda, "Tidaklah Dunia bila dibandingkan dengan Akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?" (HR Muslim no. 7126)
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kau menginfaqkan sesuatu kecuali pasti diberi pahalanya,bahkan suapan yang kau angkat ke mulut istrimu. (HR Bukhari)
Di saat ia totalitas dlam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari doanya ketika ia tetap tidak mengubah keinginan.(HR Ibnu Qoyyim)
Al Mustaurid bin Syaddad berkata, Rasulullah bersabda, "Tidaklah Dunia bila dibandingkan dengan Akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?" (HR Muslim no. 7126)
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kau menginfaqkan sesuatu kecuali pasti diberi pahalanya,bahkan suapan yang kau angkat ke mulut istrimu. (HR Bukhari)
Selasa, 26 April 2011
BESAR BALASAN
Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian.
Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menurunkan ujian untuk mereka. Siapayang ridha (terhadap ujian), ia akan mendapat ridha Allah. Dan siapa yang marah (terhadap ujian), ia akan mendapatkan murka Allah." (HR Tirmidzi-shahih)
Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menurunkan ujian untuk mereka. Siapayang ridha (terhadap ujian), ia akan mendapat ridha Allah. Dan siapa yang marah (terhadap ujian), ia akan mendapatkan murka Allah." (HR Tirmidzi-shahih)
Selasa, 15 Februari 2011
Detik-detik Rasulullah SAW Menjelang Sakaratul Maut
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakaratul maut, ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah,
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian. Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Umatku, umatku, umatku. . . .” dan . . . PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU . . . .
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah,
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian. Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin. Kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Umatku, umatku, umatku. . . .” dan . . . PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU . . . .
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
Ketika Umar Sang “Singa Padang Pasir ” Menangis
Pernahkah kita membaca dalam riwayat tentang Umar bin Khatab yang menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan, konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar. Dikisahkan, kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain.
Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.
Mengapa “Singa Padang Pasir yang perkasa” ini sampai menangis?
Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras.
"Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku."
Rasul yang mulia bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Umar?” Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.
Nabi berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”
Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
Semoga, kita dapat meneladani Rasul kita itu dan tergolong umat Nabi SAW yang mendapatkan kebaikan. Amiin.
Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.
Mengapa “Singa Padang Pasir yang perkasa” ini sampai menangis?
Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan Rasulullah sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras.
"Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku."
Rasul yang mulia bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Umar?” Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.
Nabi berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”
Indah nian perumpamaan Nabi akan hubungan beliau dengan dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat pemberhentian sementara; hanyalah tempat berteduh sejenak, untuk kemudian kita meneruskan perjalanan yang sesungguhnya.
Semoga, kita dapat meneladani Rasul kita itu dan tergolong umat Nabi SAW yang mendapatkan kebaikan. Amiin.
Jumat, 09 April 2010
5 hal
1. berkah rizki akan diperoleh melalui sholat dhuha.
2. cahaya dalam kubur melalui sholat tahajud.
3.kemudahan dalam menjawab pertanyaanMunkar dan Nakir melalui membaca al Quran.
4. kemudahan melintasiShirotol Mustaqim melalui puasa dan sedekah.
5. mendapat perlindungan Arsy ILahi pada Hari Hisab melalui Zikrullah (zikir)
mendapatkan 5 hal melalui 5 jalan
Rabu, 31 Maret 2010
10 kriteria/aliran sesat menurut MUI
4. Mengingkari otentisitas atau kebenaran isi ajaran al Quran.
5. Melakukan penafsiran al Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kekdudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan, dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
9. Mengubah, menambah, dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syari'at
seperti haji tidak ke Baitulloh, sholat fardu tidak lima waktu.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar'i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan
kelompoknya.
(Sumber : Himbauan MUI Kab. Kebumen No. 20/MUI/XI/2007 tanggal 9 November 2007)
1. mengingkari salah satu Rukun Iman dan Rukun Islam.
2. Mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar'i yaiti al Quran dan Hadits.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah al Quran.
Minggu, 24 Januari 2010
Lima belas siksa Allah
Ust. Ngatirin, S.Pd. I (Bimroh di SMP N 3 Kebumen - 15/8/2009)
Lima belas siksa Allah SWT, bagi mereka yang melalaikan / menyepelekan sholat:
A. Saat hidup:
1. Dihilangkan keberkahan umur
2. Kekurangan rizki (tidak berkah)
3. Hilang dari wajah sinar orang sholeh
4. Setiap amal ibadahnya tidak diterima
5. Doanya tidak didengar Allah SWT
6. Tidak mendapatkan bagian doanya orang-orang sholeh
B. Waktu akan meninggal
1. Meninggal dalam keadaan hina
2. Meninggal dalam keadaan lapar
3. Meninggal dalam keadaan haus
C. Waktu telah meninggal / di alam kubur
1. Menyempit kuburnya
2. Didatangkan api dari neraka di waktu siang -malam
3. Didatangkan ular
D. Waktu keluar dari alam kubur
1. Dihisab dengan teliti
2. Allah marah
3. Masuk neraka
Semoga, kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut. Insya Allah. Amiiin.
Lima belas siksa Allah SWT, bagi mereka yang melalaikan / menyepelekan sholat:
A. Saat hidup:
1. Dihilangkan keberkahan umur
2. Kekurangan rizki (tidak berkah)
3. Hilang dari wajah sinar orang sholeh
4. Setiap amal ibadahnya tidak diterima
5. Doanya tidak didengar Allah SWT
6. Tidak mendapatkan bagian doanya orang-orang sholeh
B. Waktu akan meninggal
1. Meninggal dalam keadaan hina
2. Meninggal dalam keadaan lapar
3. Meninggal dalam keadaan haus
C. Waktu telah meninggal / di alam kubur
1. Menyempit kuburnya
2. Didatangkan api dari neraka di waktu siang -malam
3. Didatangkan ular
D. Waktu keluar dari alam kubur
1. Dihisab dengan teliti
2. Allah marah
3. Masuk neraka
Semoga, kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut. Insya Allah. Amiiin.
Selasa, 19 Januari 2010
PENYAKIT HATI
"Dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ingatlah, sepotong daging itu ada." (HR Bukhori-Muslim)
Hati yang sakit adalah hati yang
- hasut/dengki
- fitnah
- buruk sangka
- khianat
- iri hati
- ghibah / melebih-lebihkan
- dusta
- bakhil / pelit
- putus asa
- pengecut
- ujub / sombong
- mengadu domba
Jika dalam diri kita telah ada hal-hal di atas, cara terbaik untuk menepisnya adalah
- istighfar
- introspeksi
- selalu beruaha untuk menjalankan perintah Allah.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang tidak berpenyakit hati. Insya Allah. Amiiin.
Hati yang sakit adalah hati yang
- hasut/dengki
- fitnah
- buruk sangka
- khianat
- iri hati
- ghibah / melebih-lebihkan
- dusta
- bakhil / pelit
- putus asa
- pengecut
- ujub / sombong
- mengadu domba
Jika dalam diri kita telah ada hal-hal di atas, cara terbaik untuk menepisnya adalah
- istighfar
- introspeksi
- selalu beruaha untuk menjalankan perintah Allah.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang tidak berpenyakit hati. Insya Allah. Amiiin.
Langganan:
Postingan (Atom)