Kamis, 17 Desember 2009

BEBERAPA ISTILAH BAHASA
1.     Sinonim (i)
Yaitu dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama.
Contoh:
(a)   Yang sama
sudah dengan telah
sebab dengan karena
amat dengan sangat
jika – bila - kalau - apabila
(b)   Yang hampir sama
untuk – bagi – buat - guna
cinta – kasih – sayang
melihat – mengerling – menatap – menengok
baik – bagus – indah – permai – molek – cantik
Catatan:
Boleh dikatakan, jarang ada kata-kata yang bersinonim mutlak, yang maknanya 100% sama.  Meskipun kecil, tentu ada bedanya.  Demikianlah salah satu prinsip umum semantik (Prinsip yang dimaksud menyatakan bahwa jika bentuk berbeda, maka maknanyapun berbeda, meskipun hanya sedikit).  Perbedaan makna tersebut dapat dilihat dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

(a)   Makna dasar dan makna tambahannya.
Contoh:
mengerling – menatap - menengok
      (memiliki makna dasar melihat)
      mengerling  : dengan mata bergerak ke kiri / ke kanan (Siti mengerling ke arah Sita)
menatap                 : dekat – dekat dengan teliti / seksama (Sunu menatap Sani)
menengok               : dengan maksud hendak menjenguk seseorang (Monik akan menengok Yuniar di
                                Rumah Sakit)
(b)   Nilai rasanya (makna emotifnya)
      Contoh:
      bangkai – mayat - jenazah
      tewas – mati – meninggal – gugur – wafat
      buruh – pekerja – karyawan
      bunting – hamil – mengandung
(c)    Kelaziman pemakaiannya (kolokasinya)
     
Contoh:
                        Lazim                                                  Tidak Lazim
      besar          jalan besar                                            jalan agung
                  hari besar                                             hari raksasa
                  rumah besar                                          rumah raya
raya            jalan raya                                              jalan agung
                  kaya raya                                             kaya besar
bulan purnama raya                               bulan purnama besar
       agung       tamu agung                                            tamu raya
                        jaksa agung                                          jaksa besar
                        mahkamah agung                                  mahkamah raksasa
      raksasa       rapat raksasa                                        rapat raya
                        tank raksasa                                         tank agung
(d) Distribusinya
      Contoh sinonim : untuk – buat – bagi – guna
      d.1  distribusinya sama (dapat saling menggantikan)
 Misalnya dalam:       Hal itu berguna (untuk-buat-bagi) petani.
      d.2  distribusinya tidak sama (tidak dapat saling menggantikan)
             Misalnya dalam: Ibu membeli buku untuk Yulianti.
             (Kata untuk tidak dapat digantikan dengan bagi, guna).
2.     Antonim (i)
   Yakni kata – kata yang berlawanan artinya. Di dalam kalimat, atau dalam ungkapan, kata – kata itu     
    tidak memiliki antonim yang mutlak, tidak sepeti pada kata – kata lepas.
    Contoh: besar X kecil
                   ibu X bapak
                   panjang X pendek
a.      Berlawanan kembar (terbatas pada dua unsur saja)
   Contoh : pria X wanita             tidak ada banci, binan, wadan, lesbian.
                   jantan X betina
                   pemuda X pemudi
b.      Berlawanan bertingkat (antara dua kata yang berlawanan masih terdapat tingkatan – tingkatan)
   Contoh : besar X kecil
                         berat X ringan
                         tinggi X rendah
         Pada umumnya yang tergolong kta – kata berlawanan bertingkat, berupa kata sifat.
c.       Berlawanan kebalikan (terdapat hibungan timbal balik atau arah yang berlawanan).
   Contoh : guru X murid
                   ibu X bapak
                   belajar X mengajar
Catatan :
        Antara besar dengan kecil, terdapat tingkatan – tingkatan : paling besar – lebih besar – sangat   besar – besar – kecil – sangat kecil – lebih kecil – paling kecil.
3.      Homonim (i)
           Homonim yakni dua kata atau lebih yang sama bentuknya, tetapi berbeda artinya. Atau dua kata yang   dilafalkan sama, ditulis dengan ejaan yang sama, tetapi artinya berbeda.
      Contoh : lurah        : a. lembah
                                      b. kepala kelurahan
                tanggal    : a. kalender
                                b. lepas
          bisa        : a. racun
                          b. dapat
4.   Homofon
       Yaitu kata – kata yang lafalnya sama, tapi ejaan dan maknanya berbeda.
        Contoh : a.  tang : alat untuk menjepit atau mencabut
                             tank             : mobil berlapis baja yang dilengkapi dengan senjata
                        b. sanksi           : tindakan hukuman
                            sangsi           : ragu, bimbang
                         c. massa          : sekumpulan orang yang tidak jelas identitasnya
                            masa            : waktu, saat, tempo
5.      Homograf
       Yakni kata – kata yang ejaannya sama, tetapi makna dan lafalnya berbeda.
        Contoh : teras      : a. depan rumah
                                      b. penting atau tinggi
                        mental  : a. moral
                                      b. terpelanting
Perhatikan tabel berikut ini!
Istilah
Ejaan
Lafal
Arti
Contoh
Homonim
Sama
Sama
beda
lurah I – lurah II
Homofon
Beda
Sama
beda
tang – tank
Homograf
Sama
Beda
beda
mental I – mental II

6.      Polisemi
       Yaitu sebuah kata yang mengalami pergeseran arti menjadi bermacam – macam sesuai dengan   lingkungannya. Atau sebuah kata yang memiliki banyak arti.
         Contoh :     kepala :  a. bagian tubuh dari leher ke atas
                                           b. akal budi (badan besar tapi kepalanya .......)
                                           c. jiwa atau orang (setiap kepala mendapat bagian)
                                           d. pemimpin / ketua (Kepala Sekolah, Kepala Kantor, Kepala Stasiun)
                  bagan  :                       makna 1
                                                     makna 2
                                                     makna 3
                                                     makna 4     

7.     Hiponim (i)
Yaitu nama yang termasuk di bawah nama lain. Atau ungkapan yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna atau suatu ungkapan lain.
Contoh : tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab nama tongkol berada atau termasuk dalam   
                makna kata ikan.
Catatan :
Tongkol merupakan nama ikan, tetapi ikan bukan hanya tongkol, melainkan ada pari, hiu, bandeng, lele, arwana, lohan, dan sebagainya.

Sumber :
      Chaer, Abdul.  1990.  Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
      Masnur, Muslich, dkk. 1990. Paket Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia I. Malang: IKIP Malang.

ooo0ooo

Rabu, 16 Desember 2009

MAJAS atau GAYA BAHASA
            Yang menjadikan karangan seorang pujangga indah adalah karena kesanggupannya meramu kata. Pilihan katanya tepat dan menarik.  Seolah-olah memiliki jiwa, hidup, dan segar. Pemakaian kata – kata yang berjiwa, segar dan dapat menggetarkan perasaan pembaca atau pendengar itulah yang disebut gaya bahasa atau plastik bahasa atau majas.
            Gaya bahasa tiap pengarang tentu saja berbeda. Yang sama adalah bahwa gaya bahasa itulah yang menimbulkan keindaha pada cipta sastranya. Pada garis besarnya, gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar :
A.     Gaya Bahasa Penegasan
Gaya bahasa ini paling tidaka ada 16 macam, yaitu:
1.      Pleonasme, yakni penegasan dengan menggunakan kata yang sama maksud dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
a.       Naiklah ke atas! (ke atas sudah berarti naik)
b.      Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. (menyaksikan selalu dengan mata, mata selalu di kepala, tidak ada melihat dengan mata kaki. Ini berarti pleonasmenya dua kali)
2.      Repetisi, yaitu penegasan dengan jalan mengulang kata yang dipakai dalam pidato atau karangan prosa.
Contoh:
a.       Selama nafasku masih mengalir, selama darahku masih mendesir, selama jantung di dadaku masih berdenyut, aku akan tetap melakukannya.
c.       Di sana aku dapat melihat pegunungan yang indah. Di sana aku dapt pula melihat terbit dan terbenamnya mentari. Di sanalah kekagumanku pada ciptaan-Nya semakin bertambah besar.
3.      Tautologi, penegasan dengan jalan mengulang kata beberapa kali dalam sebuah kalimat.
Misalnya:
a.       Terus, teruskanlah cita-citamu!
b.   Tidak, tidak mungkin dia serendah itu!        
4.      Paralelisme, yaitu gaya pengulangan pada puisi. Jika pengulangan di awal baris dinamakan anafora.  Jika pengulangan di akhir baris disebut epifora.
Contoh anafora :        Junjunganku,
Apatah kekal,
Apatah tetap,
Apatah tak bersalin rupa
Apatah boga sepanjang masa,
                                                                        (Amir Hamzah)
Contoh epifora :            Kalau kau mau, aku akan datang
                                    Kalau kau kehendaki, aku akan datang
                                    Jika kau minta, aku akan datang
5.      Kilamaks, yaitu melukiskan keadaan yang makin menarik (nsik).
Contoh:
a.       Bukan hanya satu, dua, atau tiga, tetapi beratus-ratus korbannya.
b.      Hujan renyai-renyai, rintik-rintik, dan akhirnya seperti ditumpahkan dari langit.
6.      Antiklimaks, yaitu melukiskan keadaan yang makin menurun.
Contoh:
a.       Presiden, para menteri, para pembesar, dan rakyat jelata semuanya hadir dalam pesta itu.
b.      Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, dan kini anaknya semua tak luput dari penyakit itu.
7.      Retoris, yaitu pertanyaan yang tak memerlukan jawaban, karena telah sama-sama dimaklumi jawabannya, Dalam pidato, biasanya dipakai untuk menandaskan maksud atau mengajak.
Contoh:
a.       Tidakkah semua menghendaki kebahagiaan?
b,    Sudahkah tercapai masyarakat adil dan makmur?
8.      Inversi, yaitu susunan kalimat yang predikatnya mendahului subjek, untuk menghidupkan pernyataan.
Contoh:
a.       Datanglah ia perlahan-lahan.
b.      Menangislah kekasihnya tersedu-sedu.
9.      Elipsis, yaitu kalimat yang subjek atau predikatnya tak lagi disebutkan karena dianggap sudah diketahui. Kata-kata yang ada mendapat penegasan.
Contoh:
a.       Pergi! (Mungkin maksudnya: Pergilah kau sekarang!)
b.  Saya? (Mungkin maksudnya: Dia mencuri lagi?)
10    Koreksio, yaitu penggunaan kata lain yang lebih tepat sebagai koreksi terhadap kata yang dipakai terdahulu.
Contoh:
a,  Dia kekasihku, eh bukan, adikku!
b.  Bajunya kemerah-merahan, bukan merah muda yang dikenakan kemarin.
11.  Interupsi, yaitu penyisipan kata atau kelompok kata pada kalimat. Maksudnya, untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat itu.
Contoh:
a, Tiba-tiba ia – suami itu – direbut oleh anak lain.
b. Ia – juga teman – temannya – telah pergi meninggalkan daku sendiri.
12.  Asindeton, yaitu menyebutkan hal, keadaan, atau benda secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar pembaca mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal yang disebutkan itu.
a,  Bus, truk, jip, sedan, becak, sepeda motor semuanya ditahan dan penumpangnya diperiksa satu persatu.
b.  Meja, kursi, bale-bale, semua masih berantakan.

13.  Polisindeton, yaitu melukiskan rangkaian kejadian dengan menggunakan kata penghubung.
            Contoh:
            ”Maka apabila sampailah dekat kepada kampung orang, apabila orang empunya kampung itu melihat akan dia, maka diusirnyalah dengan kayu, maka si miskin itupun larilah ia ke pasar.”
14.  Preterito, yaitu penyampaian maksud yang sebenarnya oleh pengarang agar pendengar mau berpikir dan turut menyelidiki.
Contoh:
a,  Aku tak perlu mengatakan siapa pelaku pencurian itu, kalian telah tahu pelakunya.
b.  Aku tak perlu berpanjang kata tentang hal itu.  Nasi telah menjadi bubur. Yah ... sudahlah.
15.  Enumerasi, yaitu beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan dilukiskan satu persatu agar tiap-tiap peristiwa dalam keseluruhannya itu tampak dengan jelas.
      Contoh:
”Manusia hidup dari zaman ke zaman. Yang satu bertaut dengan yang lain.  Rukun dan damai selalu dijaga. Silang sengketa dijauhkan.  Saling jaga tata susila. Saling bina martabat bersama,  Agar semua hidup bahagia.”
16.  Eksklamasi, yaitu pemakaian kata-kata yang seru agar mempertegas seruan.
      Contoh:
      a. Aduh, aduhai moleknya boneka di etalase itu!
            b. Yah, biar, biar kupeluk, ah, dengan tangan menggigil.
                                          

B.   Gaya Bahasa Perbandingan
      Gaya bahasa ini paling tidak ada 16 macam:
1.      Metafora.  Membandingkan sesuatu secara langsung.
      Contoh:
a.   Sang ratu malam telah muncul di ufuk timur.  (ratu malam = bulan)
b,  Jantung hatinya hilang tanpa pesan. (jantung hati = kekasih)
2.      Personifikasi, yakni melukiskan benda mati seolah-olah hidup, bergerak, dan berbuat seperti manusia.
Contoh:
a.       Badai menderu-deru, lautan mengamuk.
b.      Buih laut menjilat-jilat pantai.
3.      Asosiasi.   Perbandingan yang menimbulkan asosiasi terhadap keadaan yang sebenarnya.
Contoh:
a.       Mukanya bagai bulan penuh.
b.      Mukanya bagai bulan kesiangan.
4.      Litotes. Gaya bahasa unrtuk merendahkan diri dengan menyebutkan keadaan yang berlawanan.
Contoh:
a.       Mampirlah ke pondok kami.
b.      Apa yang dapat kubanggakan.  Ilmu tiada, harta pun tak punya.
5.      Metonimia. Gaya bahasa yang melukiskan arti yang mengkhusus karena telah merupakan istilah yang tertentu dan telah bergeser dari arti yang semula.
Contoh:
a.       Minggu depan ia tukar cincin.
b.      Ia datang menggunakan Katana, bukan Ford.
6.      Simbolik atau perlambang. Melukiskan sesuatu  benda dengan simbol atau lambang.
Contoh:
a.       Lintah darat harus dibasmi.
b,  Jangan pernah percaya dengan buaya darat!
7.      Eufemisme. Gaya bahasa pelembut atau pemali, yaitu pemakaian kata-kata halus sebagai ganti kata-kata yang dianggap kasar , kurang sopan, atau tabu.
Contoh:
a.       Saya akan ke belakang sebentar.
b.      Pohon itu ada penghuninya.
8.      Hiperbola. Gaya bahasa yang dipakai untuk melebih-lebihkan sesuatu.
Contoh:
a.       Harga sembako di pasar tradisional terus melambung.
b.   Biaya hidup semakin mencekik leher kaum duafa.
9.      Alusio. Pemakaian karmina atau pantun kilat yang tidak diselesaikan, untuk menyampaikan maksud yang bersembunyi.
Contoh:
a.       Sudah gaharu cendana pula.
b.      Pinggan tak retak, nasi tak dingin. (Tuan tak hendak, kami pun tak ingin)
10.  Parabel. Maksud yang samar-samar yang terdapat dalam uraian sebuah cerita.  Pembaca harus menelaah sedalam-dalamnya agar mengerti maksud karangan tersebut.
Contoh:
a.       Bhagawat Gita, mengandung ajaran.
b.  Cerita Ramayana, mengandung maksud bahwa yang benar tetap benar.
11.  Tropen. Kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh:
a.       Pikirannya melambung tinggi.
b.      Berhari-hari ia terbenam dengan buku.
12.  Pers pro toto. Menyebut sebagian, tapi yang dimaksud seluruh bagian (arti kata meluas).
Contoh:
a.       Bapak Lurah membangun Jembatan Gantung.
b.      Rudi Hartono memenangkan Thomas Cup.
13.  Totem pro parte. Menyebutkan seluruh bagian, tapi yang dimaksud sebagian saja (arti kata menyempit).
     Contoh:
a.       Sekolah kami memenangkan pertandingan itu.
b.      Indonesia adalah negara agraria.
14.  Perifrasi. Gaya bahasa perbandingan dengan jalan mengganti sebuah kata dengan gabungan kata (frase) yang sama artinya dengan kata tersebut.
Contoh:
a.       Ketika matahari masuk ke peraduan, barulah ia tiba.
b.   Kuda besi yang panjang itu terus berlari.
15.  Antonomasi. Gelaran atau julukan terhadap seseorang.

Contoh:
a.       Si kancil sedang membual.
b.      Pak Pandir selalu menemukan keuntungan.
16.  Alegori. Pemakaian beberapa kiasan atau perbandingan yang lengkap untuk melukiskan beberapa hal atau keadaan.
Contoh:
”Hati-hatilah kamu mengarungi bahtera hidupmu, mengarungi lautan penuh bahaya, batu karang, gelombang, topan, dan badai.  Jika nahkoda dan juru mudi senantiasa seia sekata dalam melayarkan bahteranya, niscaya akan tercapai tanah tepi yang menjadi idaman.”

C.    Gaya Bahasa Sindiran
      Gaya bahasa ini ada tiga macam:
1.     Ironi, yakni gaya bahasa sindiran halus.
Contoh:
a.       Banyak benar uangmu.
b.  Bagus benar tulisanmu.
2.     Sinisme, yakni gaya gaya bahasa sindiran tajam.
Contoh:
a.       Sakit telingaku mendengarkan suaramu.
b.      Sepanjang hari, makan saja kerjamu.
3.     Sarkasme, yakni cemooh yang sangat kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
   Contoh:
a.       Cih! Jijik aku melihatmu!
b.      Mampuslah kau, tidak mau menuruti nasihat orang.

D.   Gaya Bahasa Pertentangan
     Gaya bahasa ini ada 4 macam, yaitu:
1.     Kontradiksi, yakni gaya bahasa pertentangan dengan jalan menggunakan sebuah kata yang bertentangan dengan arti kata yang dipakai terdahulu.
Contoh:
a.       Semua buku telah kumiliki, kecuali buku bahasa Indonesia.
b.      Para tamu undangan telah hadir, kecuali Pak Camat.
2.      Paradoks. Melukiskan sesuatu yang seolah-olah berlawanan, tetapi ada logikanya.

Contoh:
a.       Di kota yang ramai ini, aku merasa kesepian.
b.      Hartanya banyak, tetapi dia miskin.
3.     Antitesis. Pemakaian kata-kata yang berlawanan arti, untuk lebih menghidupkan pernyataan.
Contoh:
a.       Tua-muda, besar-kecil, laki-laki -  perempuan, berduyun-duyun ke tanah lapang.
b.      Hidup-matinya, senang-susahnya, serahkanlah pada-Nya.
4.     Okupasi, yakni gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh umum dianggap benar.
Contoh:
”Merokok itu sangat merugikan. Tak ubahnya seperti kita membakar uang.  Banyak orang yang terserang penyakit kanker paru-paru karena menghisap rokok.  Tapi, banyak orang yang baru dapat bekerja/belajar setelah/sambil merokok.  Sebab dengan merokok, akan timbul kreasi dan inspirasinya.”


ooo0ooo